Pages


This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 02 Februari 2012

Timun Mas

Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri petani. Mereka tinggal di sebuah desa di dekat hutan. Mereka hidup bahagia. Sayangnya mereka belum saja dikaruniai seorang anak pun.
Setiap hari mereka berdoa pada Yang Maha Kuasa. Mereka berdoa agar segera diberi seorang anak. Suatu hari seorang raksasa melewati tempat tinggal mereka. Raksasa itu mendengar doa suami istri itu. Raksasa itu kemudian memberi mereka biji mentimun.

“Tanamlah biji ini. Nanti kau akan mendapatkan seorang anak perempuan,” kata Raksasa. “Terima kasih, Raksasa,” kata suami istri itu. “Tapi ada syaratnya. Pada usia 17 tahun anak itu harus kalian serahkan padaku,” sahut Raksasa. Suami istri itu sangat merindukan seorang anak. Karena itu tanpa berpikir panjang mereka setuju.

Suami istri petani itu kemudian menanam biji-biji mentimun itu. Setiap hari mereka merawat tanaman yang mulai tumbuh itu dengan sebaik mungkin. Berbulan-bulan kemudian tumbuhlah sebuah mentimun berwarna keemasan.

Buah mentimun itu semakin lama semakin besar dan berat. Ketika buah itu masak, mereka memetiknya. Dengan hati-hati mereka memotong buah itu. Betapa terkejutnya mereka, di dalam buah itu mereka menemukan bayi perempuan yang sangat cantik. Suami istri itu sangat bahagia. Mereka memberi nama bayi itu Timun Mas.

Tahun demi tahun berlalu. Timun Mas tumbuh menjadi gadis yang cantik. Kedua orang tuanya sangat bangga padanya. Tapi mereka menjadi sangat takut. Karena pada ulang tahun Timun Mas yang ke-17, sang raksasa datang kembali. Raksasa itu menangih janji untuk mengambil Timun Mas.
Petani itu mencoba tenang. “Tunggulah sebentar. Timun Mas sedang bermain. Istriku akan memanggilnya,” katanya. Petani itu segera menemui anaknya. “Anakkku, ambillah ini,” katanya sambil menyerahkan sebuah kantung kain. “Ini akan menolongmu melawan Raksasa. Sekarang larilah secepat mungkin,” katanya. Maka Timun Mas pun segera melarikan diri.

Suami istri itu sedih atas kepergian Timun Mas. Tapi mereka tidak rela kalau anaknya menjadi santapan Raksasa. Raksasa menunggu cukup lama. Ia menjadi tak sabar. Ia tahu, telah dibohongi suami istri itu. Lalu ia pun menghancurkan pondok petani itu. Lalu ia mengejar Timun Mas ke hutan.
Raksasa segera berlari mengejar Timun Mas. Raksasa semakin dekat. Timun Mas segera mengambil segenggam garam dari kantung kainnya. Lalu garam itu ditaburkan ke arah Raksasa. Tiba-tiba sebuah laut yang luas pun terhampar. Raksasa terpaksa berenang dengan susah payah.

Timun Mas berlari lagi. Tapi kemudian Raksasa hampir berhasil menyusulnya. Timun Mas kembali mengambil benda ajaib dari kantungnya. Ia mengambil segenggam cabai. Cabai itu dilemparnya ke arah raksasa. Seketika pohon dengan ranting dan duri yang tajam memerangkap Raksasa. Raksasa berteriak kesakitan. Sementara Timun Mas berlari menyelamatkan diri.

Tapi Raksasa sungguh kuat. Ia lagi-lagi hampir menangkap Timun Mas. Maka Timun Mas pun mengeluarkan benda ajaib ketiga. Ia menebarkan biji-biji mentimun ajaib. Seketika tumbuhlah kebun mentimun yang sangat luas. Raksasa sangat letih dan kelaparan. Ia pun makan mentimun-mentimun yang segar itu dengan lahap. Karena terlalu banyak makan, Raksasa tertidur.

Timun Mas kembali melarikan diri. Ia berlari sekuat tenaga. Tapi lama kelamaan tenaganya habis. Lebih celaka lagi karena Raksasa terbangun dari tidurnya. Raksasa lagi-lagi hampir menangkapnya. Timun Mas sangat ketakutan. Ia pun melemparkan senjatanya yang terakhir, segenggam terasi udang. Lagi-lagi terjadi keajaiban. Sebuah danau lumpur yang luas terhampar. Raksasa terjerembab ke dalamnya. Tangannya hampir menggapai Timun Mas. Tapi danau lumpur itu menariknya ke dasar. Raksasa panik. Ia tak bisa bernapas, lalu tenggelam.

Timun Mas lega. Ia telah selamat. Timun Mas pun kembali ke rumah orang tuanya. Ayah dan Ibu Timun Mas senang sekali melihat Timun Mas selamat. Mereka menyambutnya. “Terima Kasih, Tuhan. Kau telah menyelamatkan anakku,” kata mereka gembira.
Sejak saat itu Timun Mas dapat hidup tenang bersama orang tuanya. Mereka dapat hidup bahagia tanpa ketakutan lagi.

Ken Arok dan Ken Dedes-Kisah Cinta Bernilai Sejarah

1210 Masehi…

Di suatu sore, Ken Arok (25 tahun) tak sengaja melihat dari jauh Ken Dedes (21 tahun / istrinya Tunggul Ametung) naik tandu dikawal para penggawal pulang dari pemandian. Ketika itu kain panjang yang dikenakan Ken Dedes tertiup angin sehingga tersingkaplah apa yang ada di balik kain panjang Ken Dedes itu. Dada Ken Arok terkesiap melihat paha si cantik Ken Dedes yang putih dan bersinar. Ken Arok menceritakan hal itu ke Ponirah (55 tahun / gurunya Ken Arok). Dari situ Ken Arok jadi ingin tahu, apa benar ada kepercayaan… bila seorang wanita memiliki paha bersinar, kelak akan melahirkan raja-raja dan penguasa besar. Ponirah pun membenarkannya, kemudian dia menyuruh Ken Arok agar minta dibuatkan keris ke Empu Gandring (55 tahun)… Mesti Empu Gandring menganggap obsesi Ken Arok “edan”, namun dia tetap membuatkannya.

Langkah Ken Arok selanjutnya adalah, bagaimana caranya supaya dia bisa bekerja di Kadipatenan? Dengan bantuan Kebo Ijo (sahabatnya Ken Arok yang juga anak Buahnya Tunggul Ametung / 25 tahun), Ken Arok kemudian mendapat kerja di kadipatenan. Oleh karena Ken Arok mempunyai ilmu kanuragan yang tak jauh beda dengan Kebo Ijo, Tunggul Ametung (28 tahun / suaminya Ken Dedes / Adipati kadipaten Tumapel) menjadikannya orang kepercayaan yang bertugas menjaga Ken Dedes. Semenjak itu Ken Dedes pun mulai dekat dengan Ken Arok. Ken Dedes menceritakan kesedihannya yang sering ditinggal pergi oleh Tunggul Ametung tugas ke luar kota pada Ken Arok. Tapi meskipun ia banyak curhat dengan Ken Arok, dia tetap saja mencintai Tunggul Ametung melebihi siapapun di dunia ini. Hati Ken arok yang mendengarnya serasa pedih. Ia sudah tidak tahan untuk merebut Ken Dedes dari Tunggul Ametung.

Ken Arok pun mendatangi Empu Gandring dan menagih kerisnya, namun keris itu baru 75% selesai. Ken Arok yang sudah tidak sabar kemudian membunuh Empu Gandring. Tidak sampai di situ saja, Ken Arok diam-diam berhasil membunuh Tunggul Ametung, bahkan Kebo Ijo. Sepeninggal mati suaminya, Ken Dedes dan rakyat mengangkat Ken Arok jadi Adipati yang baru. Hebatnya Ken Arok ini, dia pintar mendekati rakyat. Bahkan mereka juga yang menjodohkan antara Ken Arok dan Ken Dedes sehingga keduanya menikah.

1222 Masehi…

Keberhasilan Ken Arok dalam memimpin membuat dia berhasil merubah Kadipaten Tumapel menjadi Kerajaan Singosari. Tapi seiring waktu dia pun selingkuh dengan Ken Umang sehingga ketahuan oleh Ken Dedes yang sedih, karena cintanya dikhianati.

1227 Masehi…

Tapi bukan Ken Dedes kalau tidak memaafkan, sehingga Ken Arok pun merasa bahagia karena keluarganya akur. Namun tanpa sepengetahuannya, Anusapati (kini 17 tahun) tahu siapa pembunuh ayahnya sebenarnya. Sehingga ketika Ken Arok, Ken Umang, dan Ken Dedes tengah asyik bercengkrama di taman kadipaten, tiba-tiba Anusapati menusukkan keris ke perut Ken Arok, membuat Ken Arok teringat…

“Ken Arok! Aku ndak sudi kamu ngebunuh aku sama keris buatanku sendiri. Aku bersumpah, keris ini-lah yang nanti akan membunuh kamu! Aaargh!” ucap Empu Gandring. Usai teringat akan itu, Ken Arok kemudian tewas di pangkuan Ken Dedes yang menatapnya nanar. Ken Dedes tak tahu harus bagaimana ketika sadar bahwa Ken Aroklah yang membunuh Tunggul Ametung…

Jayaprana dan Layonsari-Cerita Asli Rakyat Bali

Dua orang suami istri bertempat tinggal di Desa Kalianget mempunyai tiga orang anak, dua orang laki-laki dan seorang perempuan. Oleh karena ada wabah yang menimpa masyarakat desa itu, maka empat orang dari keluarga yang miskin ini meninggal dunia bersamaan. Tinggalan seorang laki-laki yang paling bungsu bernama I Jayaprana. Oleh karena orang yang terakhir ini keadaannya yatim piatu, maka ia puan memberanikan dirimengabdi di istana raja. Di istana, laki-laki itu sangat rajin, rajapun amat kasih sayang kepadanya.
 
Kini I Jayaprana baru berusia duabelas tahun. Ia sangat ganteng paras muka tampan dan senyumnya pun sangat manis menarik.
Beberapa tahun kemudian.

Pada suatu hari raja menitahkan I Jayaprana, supaya memilih seorang dayang-dayang yang ada di dalam istana atau gadis gadis yang ada di luar istana. Mula-mula I Jayaprana menolak titah baginda, dengan alasan bahwa dirinya masih kanak-kanak. Tetapi karena dipaksan oleh raja akhirnya I Jayaprana menurutinya. Ia pun melancong ke pasar yang ada di depan istana hendak melihat-lihat gadis yang lalu lalang pergi ke pasar. Tiba-tiba ia melihat seorang gadis yang sangat cantik jelita. Gadis itu bernama Ni Layonsari, putra Jero Bendesa, berasal dari Banjar Sekar.
 
Melihat gadis yang elok itu, I Jayaprana sangat terpikat hatinya dan pandangan matanya terus membuntuti lenggang gadis itu ke pasar, sebaliknya Ni Layonsari pun sangat hancur hatinya baru memandang pemuda ganteng yang sedang duduk-duduk di depan istana. Setelah gadis itu menyelinap di balik orang-orang yang ada di dalam pasar, maka I Jayaprana cepat-cepat kembali ke istana hendak melapor kehadapan Sri Baginda Raja. Laporan I Jayaprana diterima oleh baginda dan kemudian raja menulis sepucuk surat.
 
I Jayaprana dititahkan membawa sepucuk surat ke rumahnya Jero Bendesa. Tiada diceritakan di tengah jalan, maka I Jayaprana tiba di rumahnya Jero Bendesa. Ia menyerahkan surat yang dibawanya itu kepada Jero Bendesa dengan hormatnya. Jero Bendesa menerima terus langsung dibacanya dalam hati. Jero Bendesa sangat setuju apabila putrinya yaitu Ni Layonsari dikawinkan dengan I Jayaprana. Setelah ia menyampaikan isi hatinya “setuju” kepada I Jayaprana, lalu I Jayaprana memohon diri pulang kembali.
 
Di istana Raja sedang mengadakan sidang di pendopo. Tiba-tiba datanglah I Jayaprana menghadap pesanan Jero Bendesa kehadapan Sri Baginda Raja. Kemudian Raja mengumumkan pada sidang yang isinya antara lain: Bahwa nanti pada hari Selasa Legi wuku Kuningan, raja akan membuat upacara perkawinannya I Jayaprana dengan Ni Layonsari. Dari itu raja memerintahkan kepada segenap perbekel, supaya mulai mendirikan bangunan-bangunan rumah, balai-balai selengkapnya untuk I Jayaprana.
 
Menjelang hari perkawinannya semua bangunan-bangunan sudah selesai dikerjakan dengan secara gotong royong semuanya serba indah. Kini tiba hari upacara perkawinan I Jayaprana diiringi oleh masyarakat desanya, pergi ke rumahnya Jero Bendesa, hendak memohon Ni Layonsari dengan alat upacara selengkapnya. Sri Baginda Raja sedang duduk di atas singgasana dihadap oleh para pegawai raja dan para perbekel baginda. Kemudian datanglah rombongan I Jayaprana di depan istana. Kedua mempelai itu harus turun dari atas joli, terus langsung menyembah kehadapan Sri Baginda Raja dengan hormatnya melihat wajah Ni Layonsari, raja pun membisu tak dapat bersabda.
 
Setelah senja kedua mempelai itu lalu memohon diri akan kembal ke rumahnya meninggalkan sidang di paseban. Sepeninggal mereka itu, Sri Baginda lalu bersabda kepada para perbekel semuanya untuk meminta pertimbangan caranya memperdayakan I Jayaprana supaya ia mati. Istrinya yaitu Ni Layonsari supaya masuk ke istana dijadikan permaisuri baginda. Dikatakan apabila Ni Layonsari tidak dapat diperistri maka baginda akan mangkat karena kesedihan.
 
Mendengar sabda itu salah seorang perbekel lalu tampak ke depan hendak mengetengahkan pertimbangan, yang isinya antara lain: agar Sri Paduka Raja menitahkan I Jayaprana bersama rombongan pergi ke Celuk Terima, untuk menyelidiki perahu yang hancur dan orang-orang Bajo menembak binatang yang ada di kawasan pengulan. Demikian isi pertimbangan salah seorang perbekel yang bernama I Saunggaling, yang telah disepakati oleh Sang Raja. Sekarang tersebutlah I Jayaprana yang sangat brebahagia hidupnya bersama istrinya. Tetapi baru tujuh hari lamanya mereka berbulan madu, datanglah seorang utusan raja ke rumahnya, yang maksudnya memanggil I Jayaprana supaya menghadap ke paseban. I Jayaprana segera pergi ke paseban menghadap Sri P aduka Raja bersama perbekel sekalian. Di paseban mereka dititahkan supaya besok pagi-pagi ke Celuk Terima untuk menyelidiki adanya perahu kandas dan kekacauan-kekacauan lainnya. Setelah senja, sidang pun bubar. I Jayaprana pulang kembali ia disambut oleh istrinya yang sangat dicintainya itu. I Jayaprana menerangkan hasil-hasil rapat di paseban kepada istrinya.
 
Hari sudah malam Ni Layonsari bermimpi, rumahnya dihanyutkan banjir besar, ia pun bangkit dari tempat tidurnya seraya menerangkan isi impiannya yang sangat mengerikan itu kepada I Jayaprana. Ia meminta agar keberangkatannya besok dibatalkan berdasarkan alamat-alamat impiannya. Tetapi I Jayaprana tidak berani menolak perintah raja. Dikatakan bahwa kematian itu terletak di tangan Tuhan Yang Maha Esa. Pagi-pagi I Jayaprana bersama rombongan berangkat ke Celuk Terima, meninggalkan Ni Layonsari di rumahnya dalam kesedihan. Dalam perjalanan rombongan itu, I Jayaprana sering kali mendapat alamat yang buruk-buruk. Akhirnya mereka tiba di hutan Celuk Terima. I Jayaprana sudah meras dirinya akan dibinasakan kemudian I Saunggaling berkata kepada I Jayaprana sambil menyerahkan sepucuk surat. I Jayaprana menerima surat itu terus langsung dibaca dalam hati isinya:
“ Hai engkau Jayaprana
Manusia tiada berguna
Berjalan berjalanlah engkau
Akulah menyuruh membunuh kau

Dosamu sangat besar
Kau melampaui tingkah raja
Istrimu sungguh milik orang besar
Kuambil kujadikan istri raja

Serahkanlah jiwamu sekarang
Jangan engkau melawan
Layonsari jangan kau kenang
Kuperistri hingga akhir jaman.”

Demikianlah isi surat Sri Baginda Raja kepada I Jayaprana. Setelah I Jayaprana membaca surat itu lalu ia pun menangis tersedu-sedu sambil meratap. “Yah, oleh karena sudah dari titah baginda, hamba tiada menolak. Sungguh semula baginda menanam dan memelihara hambat tetapi kini baginda ingin mencabutnya, yah silakan. Hamba rela dibunuh demi kepentingan baginda, meski pun hamba tiada berdosa. Demikian ratapnya I Jayaprana seraya mencucurkan air mata. Selanjutnya I Jayaprana meminta kepada I Saunggaling supaya segera bersiap-siap menikamnya. Setelah I Saunggaling mempermaklumkan kepada I Jayaprana bahwa ia menuruti apa yang dititahkan oleh raja dengan hati yang berat dan sedih ia menancapkan kerisnya pada lambung kirinya I Jayaprana. Darah menyembur harum semerbak baunya bersamaan dengan alamat yang aneh-aneh di angkasa dan di bumi seperti: gempa bumi, angin topan, hujan bunga, teja membangun dan sebagainya.
 
Setelah mayat I Jayaprana itu dikubur, maka seluruh perbekel kembali pulang dengan perasaan sangat sedih. Di tengah jalan mereka sering mendapat bahaya maut. Diantara perbekel itu banyak yang mati. Ada yang mati karena diterkam harimau, ada juga dipagut ular. Berita tentang terbunuhnya I Jayaprana itu telah didengar oleh istrinya yaitu Ni Layonsari. Dari itu ia segera menghunus keris dan menikan dirinya. Demikianlah isi singkat cerita dua orang muda mudi itu yang baru saja berbulan madu atas cinta murninya akan tetapi mendapat halangan dari seorang raja dan akhirnya bersama-sama meninggal dunia.

Kebiasaan Masyarakat Indonesia yang SALAH di mata medis


1. Dikerok karena masuk angin
Memang terasa enteng karena dianggap anginnya telah keluar. Padahal dengan kerokan, pembuluh kapiler tepi akan pecah. Kerokan akan menimbulkan rasa sakit, namun karena sudah ada rasa sakit dan pegal otot, maka dengan rangsangan sakit yang baru, membuat rasa sakit yang pertama menjadi berkurang.
Ya, kerap masuk angin hilang setelah kerokan. Ini bisa jadi kita sudah tersugesti karenanya, sehingga kerap kita melakukannya. Tidak sedikit bukan di antara kita yang melakukan tindakan ini!

2. Angin duduk mesti dikerok atau dipijat
Dengan pengerokan atau pemijatan pada penderita angin duduk, bukan cara penanganan yang baik pada kasus penderita angin duduk.
Semestinya dengan pemberian Oksigen dan obat serta tindakan diagnostik khusus.
Angin duduk bisa jadi merupakan gejala awal serangan jantung berat akibat sumbatan darah ke seluruh tubuh.
Tidak sedikit bukan korban angin duduk yang tak segera ditangani, nyawanya melayang !

3. Tidak boleh mandi pada penderita campak atau cacar air
Ini malah bertentangan dengan prinsip medis. Penderita cacar air atau campak dengan kelainan pada kulit yang menyeluruh justru harus menjaga kebersihan kulit dengan sering mandi agar perluasan penyakit dapat dicegah, disamping juga menggunakan obat tentunya!

4. Mandi malam menyebabkan rematik
Memang untuk penderita rematik jika akan mandi malam dianjurkan dengan air hangat.
Pada orang sehat yang mengharuskan mandi untuk kebersihan tidak ada masalah meski harus mandi malam.
Rupanya ini informasi yang cocok untuk masyarakat metropolis yang sering terjebak kemacetan dan berakibat sampai rumah selalu malam hari!

5. Kalau demam tidak boleh mandi
Mandi ketika demam malah dapat menurunkan suhu tubuh. Namun demam yang diikuti dengan menggigil, mandi dengan air hangat akan lebih baik atau dikompres saja dengan air hangat!
Ya begitulah kebiasaan keluarga yang diturunkan secara turun menurun bukan!

6. Memakai pakaian tebal atau selimut ketika demam
Dengan menggunakan pakaian tebal atau selimut tebal justru meningkatkan suhu badan. Padahal suhu yang tinggi (39o) pada anak-anak, justru menyebabkan kejang-kejang, sehingga disarankan mengenakan pakaian tipis, meski merasa dingin.

Pengertian Lahan Potensial dan Lahan Kritis

Apakah menurut kalian pengertian lahan dan tanah itu sama?
Selama ini orang mengira bahwa pengertian antara lahan dan tanah itu sama. Padahal menurut konsep Geografi, lahan dan tanah memiliki perbedaan yang mendasar. Tanah dalam Bahasa Inggris disebut soil. menurut Dokuchaiev, tanah adalah suatu benda fisis yang berdimensi tiga, terdiri dari panjang, lebar, dan dalam yang merupakan lapisan teratas dari bumi.
Sedangkan lahan dalam Bahasa Inggrisnya disebut Land.
Lahan merupakan lingkungan fisis dan biotik yang berhubungan dengan daya dukungnya terhadap perikehidupan dan kesejateraan hidup manusia. Lingkungan fisis meliputi relief ( Topografi ), iklim, tanah, dan air. Sedangkan lingkungan biotik meliputi tumbuhan, hewan, dan manusia. 
Bagaimana lapisan susunan tanah?
Terdiri atas 5 Horison, yaitu :
  • Horison O, merupakan horison organik. Terdapat pada tanah bervegetasi padat ( hutan primer ) yang belum terjamah leh tangan manusia.
  • Horison A, merupakan campuran mineral dan organik. Disebut horison eluviasi ( pencucian ) karena pada horison ini banyak mineral dan organik yang tercuci.
  • Horison B, disebut juga horison iluviasi ( penimbunan ), karena tempat penimbunan mineral dan organik dari Horison A.
  • Horison C,  lapisan batuan induk yang belum banyak mengalami proses pelapukan.
  • Horison R, lapisan batuan induk yang sama sekali belum mengalami proses pelapukan. 




1. Pengertian Lahan Potensial
Lahan Potensial adalah lahan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Dalam arti sempit lahan potensial selalu dikaitkan dengan produksi pertanian, yaitu lahan yang memberikan hasil pertanian tinggi walaupun dengan biaya pengelolaan yang rendah. Tetapi dalam arti yang lebih luas lahan potensial dikaitkan dengan fungsinya, yaitu lahan yang dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sehingga potensial atau tidaknya suatu lahan diukur sampai sejauh mana lahan tersebut memberikan manfaat optimal bagi kehidupan manusia. Sebagai contoh suatu lahan tersebut tidak potensial sebagai lahan pertanian, tetapi potensial sebagai tempat pemukiman, obyek pariwisata, perdagangan, dll.
2. Pengertian Lahan Kritis
Lahan Kritis lahan yang mengalami kerusakan baik secara fisik, kimiawi, dan biologis atau lahan yang tidak memiliki nilai ekonomis. Untuk menilai kritis tidaknya sebuah lahan, dapat dilihat dari kemampuan lahan tersebut. Sedangkan untuk melihat kemampuan suatu lahan dapat ditinjau dari besarnya resiko ancaman ataupun hambatan dalam pemanfaatan lahan tersebut.
Berikut adalah tabel yang menghubungkan kelas kemampuan lahan dan resiko ancaman/hambatan
#Tambahan
VII. Lereng curam >>> Tanah berbatu, hanya untuk padang rumput >>> Erosi sangat kuat, pengakaran dangkal 
IX. Lereng sangat curam >>> Berbatu dan kemampuan menahan air sangat rendah >>> Tidak cocok untuk pertanian, lebih sesuai dibiarkan ( alami ) 




Kelas
Topografi
Sifat Lahan
Resiko Ancaman
I.
II.
III.
IV.
V.
VI.
hampir datar
lereng landai
lereng miring
bergelombang
lereng miring
dan berbukit
datar
lereng agak
curam
pengairan baik, mudah
diolah, kemampuan
menahan air baik, subur,
dan respon terhadap pupuk.
struktur tanah kurang baik,
pengolahan harus hati-hati,
mengandung garam natrium.
untuk tanaman semusim
tanahnya padas, kemam-
puan menahan air rendah,
kandungan garam natrium
sedang.
lapisan tanah tipis, kemam-
puan menahan air rendah,
kandungan garam natrium
tinggi.
tidak cocok untuk pertanian,
tanahnya berbatu-batu
tanah berbatu-batu,
mengandung garam natrium
sangat tinggi
ancaman erosi kecil, tidak
terancam banjir.
ada ancaman erosi,
terancam banjir
mudah tererosi
sangat mudah tererosi dan
sering banjir.
selalu tergenang air
erosi kuat, tidakcocok untuk
pertanian.

 

 




  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites